BUDI UTOMO LITERASI

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN,PENGUATAN BUDAYA LITERASI ADALAH KUNCI MEMAJUKAN NEGERI INI BEKERJA MULTITASKING, PERLUKAH? - Media Publikasi

Header Ads

test

BEKERJA MULTITASKING, PERLUKAH?

Bekerja Multitasking, Perlukah?


                                                Sumber Ilustrasi: Pinterest by Annisya Ella

Mari kita mulai dari sebuah pertanyaan; apakah multitasking, dalam hal apa pun, itu diperlukan? Dan kenapa harus multitasking?

Sebuah pertanyaan bagi setiap orang menjadi hal yang biasa, ditambah lagi tuntutan di zaman sekarang mengharuskan semua masyarakat yang bekerja harus serba cepat dan, kalau bisa, multitasking. Apakah perlu? Kenapa masyarakat modern tidak mengerjakan segala sesuatunya dengan lambat—lambat bukan dalam arti mengurangi durasi dalam bekerja—dan dibarengi dengan ritme untuk mencapai setiap hasil pekerjaan. Saya akan coba tarik jauh kebelekang.

Sebelum abad 21, masyarakat pekerja begitu mudah tereksploitasi dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Apa bila saya menggunakan model Marxis, eksplotasi seperti ini terjadi karena adanya sebuah sistem eksternal (Kapitalisme atau pemilik modal) yang memaksa setiap pekerja (buruh) untuk bekerja dan merelakan surplus-value yang seharusnya mereka dapatkan—dengan akumulasi setiap pekerjaannya. Maka dari itu kerja yang seharusnya menjadi bentuk eksistensial seorang manusia kini ter-aleanasi pada setiap pekerjaan yang dilakukannya. (Lihat Essai Yudha - Menghormati Manusia Melalui Kerja dan Komunikasinya)

Kini di abad 21 paradigma seperti itu bergeser dan berubah, konsep eksploitasi secara eksternal a la Marxis berganti dengan eksploitasi internal. Masyarakat modern benar-benar menempatkan diri mereka pada setiap pekerjaan yang dilakukannya dan seolah-seolah mensyaratkan setiap pekerjaan yang dilakukannya sebagai identitas diri mereka. Fenomena seperti itu akan membuka peluang hadirnya sebuah syndrome yang sering dialami oleh masyarakat pekerja modern; “Depresi”.

Depresi hadir sebagai patologis yang menyerang imune setiap pekerja modern, ia hadir bukan dari bentuk eksploitasi secara eksternal (Kapitalisme; pemilik modal) yang memaksa mereka untuk bekerja namun hadir pada diri setiap pekerja secara sukarela tanpa disadari.

Masyarakat itu disebut sebagai achievement society, pekerja modern disuguhkan sebuah gambaran akan pencapaian di setiap pekerjaan yang dilakukannya namun dengan ketidaksadaran akan itu secara bersamaan berpotensi untuk merasa depresi apabila tidak bisa mencapainya—menjadikan kita sebagai bagian dari masyarakat yang kalah.

Sekarang saya akan kembali ke pertanyaan awal, mengapa multitasking? Bukankah itu adalah sebuah cara untuk mendapatkan produktivitas yang baik dalam setiap pekerjaannya. Bagi saya hal itu sungguh jauh bertolak belakang, fenomena yang kita alami justru sebaliknya.

Bekerja dengan multitasking akan membawa kita mundur jauh kebelekang di setiap pekerjaan yang akan dijalani. Pekerja dipaksa untuk memberikan atensi lebih pada berbagai aktivitas, sehingga mengurangi bahkan menghilangkan atensi pada satu hal yang seharusnya dia dalami.

Multitasking seperti itu memaksa kita menghilangkan daya berkontemplasi akan satu hal. Kita tidak mungkin melakukan kontemplasi pada satu hal di saat yang sama kita melakukan hal yang lain. Masyarakat yang bekerja dengan cara multitasking seperti ini disebut sebagai animal laboran.

Ambil contoh pada hewan, multitasking adalah sebuah teknik yang lumrah untuk dapat bertahan hidup di alam liar, seekor hewan yang sedang makan akan sibuk mengusir musuh dari buruannya. Ia selalu harus waspada akan musuhnya bahkan ia harus terus mengawasi anak-anaknya selama makan atau berburu.

Hewan dipaksa membagi perhatiannya di antara berbagai aktivitas. Itulah kenapa hewan tidak mampu melakukan perenungan secara kontemplatif atau membenamkan diri secara kontemplatif pada sesuatu yang sedang ia hadapi.

Gambaran lain, aktivitas berfilsafat perlu mensyaratkan diri yang sedang berfilsafat dengan perhatian dan kontemplasi penuh pada setiap pemikirannya, filsafat mengandaikan sebuah lingkungan yang memungkinkan adanya perhatian yang mendalam.

Kelambanan dan mengambil jarak pada berbagai hal sangat diperlukan bagi proses kreatif. Ketergesaan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru.

Begitu juga yang sedang dialami oleh masyarakat pekerja modern, ketergesaan dan teknik multitasking justru tidak menghasilkan apa-apa. Mereka dipaksa, secara sukarela oleh dirinya sendiri, untuk bisa mencapai suatu penghargaan dalam bekerja sehingga hadirlah suatu perasaan depresi (apabila tidak bisa tercapai) yang akan menunggu meletus pada saat pekerja modern tidak lagi mampu untuk mencapai mampunya (di luar kemampuannya).

Dengan begini hadirlah sebuah eksploitasi gaya baru yakni pelaku eksploitasi secara bersamaan adalah pelaku eksploitasi itu sendiri. Saya sebut sebagai “Paradox-exploitation”.


Penulis

  

Yudha Prakasa

No comments