BEKERJA MULTITASKING, PERLUKAH?
Bekerja Multitasking, Perlukah?
Mari kita mulai dari sebuah pertanyaan; apakah multitasking, dalam hal apa pun, itu diperlukan? Dan kenapa harus multitasking?
Sebuah pertanyaan bagi setiap orang menjadi hal yang
biasa, ditambah lagi tuntutan di zaman sekarang mengharuskan semua masyarakat
yang bekerja harus serba cepat dan, kalau bisa, multitasking. Apakah
perlu? Kenapa masyarakat modern tidak mengerjakan segala sesuatunya dengan
lambat—lambat bukan dalam arti mengurangi durasi dalam bekerja—dan dibarengi
dengan ritme untuk mencapai setiap hasil pekerjaan. Saya akan coba tarik jauh
kebelekang.
Sebelum abad 21, masyarakat pekerja begitu mudah
tereksploitasi dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Apa bila saya
menggunakan model Marxis, eksplotasi seperti ini terjadi karena adanya sebuah
sistem eksternal (Kapitalisme atau pemilik modal) yang memaksa setiap pekerja
(buruh) untuk bekerja dan merelakan surplus-value yang seharusnya mereka
dapatkan—dengan akumulasi setiap pekerjaannya. Maka dari itu kerja yang
seharusnya menjadi bentuk eksistensial seorang manusia kini ter-aleanasi pada
setiap pekerjaan yang dilakukannya. (Lihat Essai Yudha - Menghormati Manusia Melalui Kerja dan Komunikasinya)
Kini di abad 21 paradigma seperti itu bergeser dan
berubah, konsep eksploitasi secara eksternal a la Marxis berganti dengan
eksploitasi internal. Masyarakat modern benar-benar menempatkan diri mereka
pada setiap pekerjaan yang dilakukannya dan seolah-seolah mensyaratkan setiap
pekerjaan yang dilakukannya sebagai identitas diri mereka. Fenomena seperti itu
akan membuka peluang hadirnya sebuah syndrome yang sering dialami oleh
masyarakat pekerja modern; “Depresi”.
Depresi hadir sebagai patologis yang menyerang imune
setiap pekerja modern, ia hadir bukan dari bentuk eksploitasi secara eksternal
(Kapitalisme; pemilik modal) yang memaksa mereka untuk bekerja namun hadir pada
diri setiap pekerja secara sukarela tanpa disadari.
Masyarakat itu disebut sebagai achievement society,
pekerja modern disuguhkan sebuah gambaran akan pencapaian di setiap
pekerjaan yang dilakukannya namun dengan ketidaksadaran akan itu secara
bersamaan berpotensi untuk merasa depresi apabila tidak bisa mencapainya—menjadikan
kita sebagai bagian dari masyarakat yang kalah.
Sekarang saya akan kembali ke pertanyaan awal, mengapa
multitasking? Bukankah itu adalah sebuah cara untuk mendapatkan
produktivitas yang baik dalam setiap pekerjaannya. Bagi saya hal itu sungguh
jauh bertolak belakang, fenomena yang kita alami justru sebaliknya.
Bekerja dengan multitasking akan membawa kita
mundur jauh kebelekang di setiap pekerjaan yang akan dijalani. Pekerja dipaksa
untuk memberikan atensi lebih pada berbagai aktivitas, sehingga mengurangi
bahkan menghilangkan atensi pada satu hal yang seharusnya dia dalami.
Multitasking seperti
itu memaksa kita menghilangkan daya berkontemplasi akan satu hal. Kita tidak
mungkin melakukan kontemplasi pada satu hal di saat yang sama kita melakukan
hal yang lain. Masyarakat yang bekerja dengan cara multitasking seperti
ini disebut sebagai animal laboran.
Ambil contoh pada hewan, multitasking adalah
sebuah teknik yang lumrah untuk dapat bertahan hidup di alam liar, seekor hewan
yang sedang makan akan sibuk mengusir musuh dari buruannya. Ia selalu harus
waspada akan musuhnya bahkan ia harus terus mengawasi anak-anaknya selama makan
atau berburu.
Hewan dipaksa membagi perhatiannya di antara berbagai
aktivitas. Itulah kenapa hewan tidak mampu melakukan perenungan secara
kontemplatif atau membenamkan diri secara kontemplatif pada sesuatu yang sedang
ia hadapi.
Gambaran lain, aktivitas berfilsafat perlu
mensyaratkan diri yang sedang berfilsafat dengan perhatian dan kontemplasi
penuh pada setiap pemikirannya, filsafat mengandaikan sebuah lingkungan yang
memungkinkan adanya perhatian yang mendalam.
Kelambanan dan mengambil jarak pada berbagai hal
sangat diperlukan bagi proses kreatif. Ketergesaan tidak akan menghasilkan
sesuatu yang baru.
Begitu juga yang sedang dialami oleh masyarakat
pekerja modern, ketergesaan dan teknik multitasking justru tidak
menghasilkan apa-apa. Mereka dipaksa, secara sukarela oleh dirinya sendiri,
untuk bisa mencapai suatu penghargaan dalam bekerja sehingga hadirlah suatu
perasaan depresi (apabila tidak bisa tercapai) yang akan menunggu meletus pada
saat pekerja modern tidak lagi mampu untuk mencapai mampunya (di luar
kemampuannya).
Dengan begini hadirlah sebuah eksploitasi gaya baru
yakni pelaku eksploitasi secara bersamaan adalah pelaku eksploitasi itu sendiri.
Saya sebut sebagai “Paradox-exploitation”.
Penulis
Yudha Prakasa
Post a Comment