Tips dan Trick Sebelum Pergi Bekerja
Tips dan Trick Sebelum Pergi Bekerja
Pagi itu, di awal bulan Januari, cuaca terasa dingin tidak
satu pun tanda akan tampak cahaya matahari. Hujan kecil yang secara intens
jatuh satu persatu membuat banyak orang bimbang untuk terus melanjutkan perjalanan
menuju ke tempat kerja, tidak ada tanda-tanda akan cerah.
Sweater setengah basah yang aku kenakan kini tidak memiliki
fungsi semestinya, suhu dingin masuk dan menusuk melalui kulit luar, tangan,
dan dadaku. Dari parkiran motor stasiun kereta, aku terus berlari menembus
hujan kecil yang tampaknya akan lebat jika aku masih menahan diri di parkiran
motor hanya untuk menghisap satu atau dua batang rokok. Lagi pula terlambat
datang ke kantor karena terjebak hujan bukanlah alasan yang tepat untuk mangkir
bekerja.
Sebenarnya bukan hanya aku saja yang mengalami hari sial itu
aku pikir hampir semua pekerja, apapun jenis pekerjaannya, mengalami nasib yang
sama. Takut akan terlambat sampai di tempat kerja adalah momok yang sering
bergantayangan di dalam kepala setiap orang. Lebih mudah membayangkan kiamat
dunia ketimbang akibat terlambat sampai ke tempat kerja.
Perlu digaris bawahi, terlambat bekerja bukanlah point yang ingin aku ceritakan, terlalu remeh buatku, melainkan ada suatu pola yang secara tidak sadar terus menerus kita lakukan setiap harinya termasuk terlambat bekerja.
***
Aku coba memulai kembali dari awal agar pembicaraan ini tidak bias.
Sewaktu kecil aku, dan mungkin semua orang, pasti memiliki Impian. Impian itu terus menerus berubah bentuk. “aku ingin menjadi ini, aku ingin jadi itu, aku ingin jadi bla, bla, bla…”. Seturut usia bertambah, pengalaman bertambah, dan pengetahuan akan dunia juga ikut bertambah. Pikiran diarahkan oleh dunia di luar diriku dan mengarahkannya menjadi keping-keping pilihan hidup yang akan aku ambil nantinya, dan menjadikannya identitas yang menempel pada diriku.
Buah dari itu kini membentuk aku yang sekarang, kini, dan hari ini yang Anda kenal; seseorang yang takut terlambat bekerja, seseorang yang terjebak macet, seseorang yang berlibur ke luar kota setiap akhir pekan, seseorang yang selalu mengulang pola yang sama setiap harinya tanpa bertanya tentang eksistensinya.
Dan kini aku sebut itu sebagai pola “burn out society”.
Sekali waktu aku pernah menonton podcast youtube Pandji Pragiwaksono—aku lupa tepatnya podcast yang membahas apa—ia menceritakan ayahnya yang menyesal karena menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengubur semua impiannya untuk menulis sebuah buku. Impian itu muncul kembali di benak ayahnya dalam bentuk ingatan yang terus menghantui ketika usia senja.
Dalam podcast-nya menurut Pandji impian setiap orang tidak benar-benar mati, ia hanya disimpan dan dikubur dalam pikiran dan akan datang kembali untuk menagih janji mewujudkannya di usia tua nanti.
Kini aku sadar aku berada dalam posisi seperti itu, aku seperti seorang Steppenwolf dalam novel Hermann Hesse, seorang manusia yang mempuanyai dua jati diri; pertama, seorang “Aku” yang sangat mengikuti dan patuh terhadap norma masyarakat Kapitalisme dan yang terakhir seorang “Aku” yang sangat ingin bebas mengaktualisasikan ke-Aku-annya di hadapan dunia, oleh Hermann Hesse disebut sebagai Steppenwolf; serigala yang ada pada diri setiap manusia.
“Aku” yang pertama adalah apa yang aku sebut sebagai golongan burn out society dan “Aku” yang kedua juga sebagai burn out society juga.
Lalu untuk apa mengkategorisasikan, sampai-sampai mengangkat konsep Steppenwolf segala, jika keduanya toh juga sama?
Keduanya akan sama jika aku masih menggunakan suatu pola kehidupan berulang, yang aku sebutkan di awal. “Aku” yang pertama mungkin bisa dibayangkan dengan jelas, jadi aku tidak perlu capek-capek menjelaskan panjang lebar, namun “Aku” yang kedua harusnya menjadi anti-tesis atau lawan dari “burn out society”, tergantung pada konteksnya.
Jadi begini, aku pernah membaca novel “Membunuh Commendatore” karya Haruki Murakami ringkasnya seorang pelukis seharusnya bekerja dengan ketulusan dan imajinasi yang optimal karena itu adalah keahlian dan kesenangan dia untuk melukis, tapi suatu kali ia merasa jenuh akan pekerjaannya sebagai pelukis, banyak faktor yang membuat pelukis itu berubah salah satunya adalah ia diceraikan oleh istrinya dan mungkin beberapa faktor lainnya—jika aku membacanya lebih jauh—ialah kegiatan melukis kini menjadi kejar tayang yang harus dikomersilkan.
Aku rasa pelukis itu kini tidak benar-benar bahagia sekalipun pekerjaanya itu adalah impian dia sewaktu kecil. Sejak awal pelukis itu sudah menjadi seorang Steppenwolf namun kini ia terjebak dalam pola burn out society, satu-satunya cara adalah sesekali ia harus melepas dan memilah bentuk komersialisasi karyanya dan mengaktulisasikan lukisannya sebagai bagian dari dirinya.
Mungkin selain jadi pelukis komersil sesekali menjadi pelukis Indie hehe…
Namun aku yakin, bahkan dalam hidup yang paling tidak berbahagia sekalipun ada momen-momen cerah dan bunga kecil kebahagiaan di antara pasir dan bebatuan.
***
Sudah hampir jam sembilan pagi, aku mempercepat langkah ku dari stasiun kereta menuju surga dan melihat Tuhan pun sedang bekerja.
Penulis
Yudha Prakasa

Post a Comment